Saturday, June 30, 2018

Krisis Finansial Asia Malah Memicu Semangat Sukanto Tanoto Untuk Diversifikasi Bisnis

Sukanto Tanoto sendiri adalah sosok yang tidak cepat berpuas diri, meski usaha yang ia kelola telah berhasil. Hal tersebut ia sarankan kepada para pengusaha lainnya agar jangan pernah mau berpuas diri. Ia juga mengajarkan salah satu trik untuk mengembangkan aset, yaitu dengan memperbanyak ragam usaha. Mirip dengan pepatah yang berbunyi “jangan menaruh telur di keranjang yang sama agar ketika jatuh, tidak semua telur pecah”.

Sebelum keberhasilan-keberhasilan di atas, Sukanto Tanoto bukanlah siapa-siapa. Berkat kerja kerasnya dalam beberapa tahun, bisnis diperluas hingga mencakup distribusi generator dan peralatan elektronik untuk kaleng minyak, serta perawatan perangkat elektromekanis, mesin, dan pipa gas. Pada tahun 1967, cikal-bakal Royal Golden Eagle yang dulu bernama Raja Garuda Mas didirikan untuk terlibat dalam kontrak proyek perminyakan. Pada saat itu pulan, ia mengembangkan Royal Golden Eagle, dan selanjutnya ia mencari bidang industry yang baru yang akan diterjuninya. 

Sukanto Tanoto

Pada awalnya ia terjun pada bidang industry kelapa sawit. Ia tergerak setelah melihat banyak perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Oleh sebab itu, Sukanto Tanoto mencari tahu produk apa saja yang bisa dihasilkan dari kelapa sawit. Ternyata, hasil dari minyak sawit sangat bervariatif mulai dari minyak hingga bahan baku dasar komestik. Ia yakin bahwa kelapa sawit akan menjadi produk yang dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga ia segera melakukan diversifikasi usaha dengan mendirikan pabrik dan membuat perkebunan kelapa sawit. Setelah melalui tahap tersebut, mulailah diversifikasi usaha dan disana ia melihat potensi kebun sawit. Pada jaman dulu, swasta tidak ada yang mau membuka kebun karena panennya lama. Padahal Sumatera dekat Malaysia. Di sana buka kebun besar-besaran. Lalu ia mengkalkulasi penduduk Indonesia 10 kali lebih banyak dari Malaysia tetapi tidak ada yang mau buka perkebunan sawit. Padahal itu bisa digunakan untuk bahan pangan, minyak goreng. Sukanto Tanoto memprediksikan bahwa lonjakan pundi uang dari usaha kontraktor perminyakan yang dilakukannya tidak bisa berjangka panjang. Dengan kepedulian ia terhadap karyawan, membuatnya memicu untuk menggarap usaha yang sukses.

Pada awal ia memulai bisnis pada tahun 1970, ia mendirikan sebuah pabrik kayu lapis. Pada saat itulah, keputusannya terlihat melawan arus karena belum ada pihak lain yang berani membuat pabrik yang serupa di Indonesia. Ia bersikeras untuk membangun pabrik kayu lapis. Sebagai negeri yang subur tanahnya dan kaya mudah ditanami oleh pepohonan, namun di sisi lain Indonesia malah mengimpornya dari luar negeri. Hasil investasi awalnya tidak langsung terasa. Namun pada saat Pemerintah mengubah kebijakannya terhadap industri hutan dengan menghentikan mengekspor kayu gelondongan, hal itu baru terasa oleh Sukanto Tanoto.

Sebagai sosok perintis yang mampu memberikan nilai tambah terhadap hasil hutan sehingga kian bernilai. Hal tersebut yang membuatnya diberi penghargaan sebagai pengusaha yang membuat keajaiban oleh Pemerintah. Dan itulah krisis finansial asia malah memicu semangat Sukanto Tanoto untuk diversifikasi bisnis.

No comments:

Post a Comment